Nyak Ina Raseuki (Ubiet): Keragaman Musikalitas dan Sikap dalam Kehidupan

Ingatan masa kecilnya yang paling lalu adalah neneknya memangginya “Ubiet” yang berarti “kecil” (Bahasa Aceh), ia tertawa, karena hal ini bertolak belakang dengan statusnya yang merupakan anak paling besar,”Paling besar, tapi kecil.” Celetuknya. Nyak Ina Raseuki memang lahir di Jakarta pada 1965, ayah berasal dari Aceh dan Ibu Minangkabau, pada umur 2 tahun ia dibawa Ayahnya ke Pulau Weh, Sabang dan ia dibesarkan disana. Saat itu pelabuhan bebas satu-satunya di Indonesia hanya ada di Pulau Weh, yang kemudian ditutup oleh Soeharto.

Ubiet kecil sering dibawa oleh Ayah Ibu datang ke kampung daratan Aceh di Kabupaten Pidi, disana ia berkenalan dengan kekayaan musikalitas Aceh, nyanyian tradisi Aceh yang sama sekali berbeda dengan nada diatonis Barat yang dipelajarinya kemudian. Sejak kecil nyanyian-nyanyian tersebut merasuk pada Ubiet sehingga ia tumbuh dengan bimusikalitas nada diatonis (do-re-mi-fa-so-la-si-do Barat -red) dan nyanyian tradisi Aceh. “Kalau orang bisa dua bahasa dikatakan bilingual, maka untuk seniman musik, menyanyi dengan dua nada itu bimusikalitas, atau musikalitas bilingual” Ujarnya. Keterlibatan Ubiet sejak kecil dengan musik termasuk pada saat mengaji, baca Qur’an, dan nyanyi-nyanyian Islam Aceh. Tiap hari Sabtu, entah cuaca bagus atau laut bergelombang, Ubiet menyebrang dari Pulau Weh, Sabang ke daratan Sumatera untuk belajar piano.

Sejak kecil ia memang gemar menyanyi dan mulai ikut lomba sejak kelas 4 SD, pada masa remaja bergabung dengan sejumlah band pop di Sabang (Pulau Weh) dan Banda Aceh; pada masa itu (akhir 1970an) ia juga pernah mengikuti kompetisi Bintang Radio dan Televisi tingkat Nasional. Lepas semester 1 SMA, Ubiet dan keluarga pindah dari Aceh dan kembali ke Jakarta. Selesainya SMA ia memilih jurusan vokal di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1983, mempelajari musik barat klasik. Untuk membiayai kuliahnya di IKJ, ia pun mulai menyanyi di kafe dan terpapar pada musik pop, walaupun di IKJ ia mempelajari musik klasik, dan selalu tertarik pada musik tradisi.

Di IKJ keberagaman musikalitas Indonesia membuka cakrawalanya, disana ia mempelajari musik Bali, belajar memainkan gamelan, baik gamelan Bali, gamelan Jawa, hingga gambang kromong Betawi, dan Minang sementara untuk jurusan musik barat klasik, konservatori. Keragaman Indonesia hidup lewat nyanyian-nyanyian tradisionalnya untuk Ubiet. Perlahan lahan ingatannya mengenai musik tradisi Aceh mulai memanggilnya kembali, sehingga pada tahun ketiga ia memutuskan untuk belajar Etnomusikologi, dan mengenal lebih jauh keragaman musikalitas tradisi di Indonesia dan dunia. Saat itu Ubiet belum selesai belajar di IKJ, “Etnomusikologi itu mempelajari musik dengan konteks kebudayaan, seperti Antropologi, namun musik.” Jelas Ubiet. Ia pun pindah ke Amerika Serikat untuk mendalami etnomusikologi, di University of Wisconsin—Madison, Amerika Serikat, sampai menyelesaikan gelar Master of Music, dengan penelitian tentang musik seudati Aceh. Disana perannya berubah dari vokalis (pertunjukkan) menjadi studi musik (pengamat musik). Di Amerika Serikat ia melanjutkan program doktor dalam etnomusikologi (2009) juga di University of Wisconsin-Madison, dengan penelitian tentang musik Kerinci dan Aceh. Masa studi ini membuka matanya terhadap hubungan antara musik dan lingkungan budaya, juga terhadap berbagai tradisi musik dan nyanyi di dunia ini. Di Amerika, ia menjadi terpapar luas pada musik Afrika, Eropa Timur, Korea dan semakin banyak ia terpapar oleh musik yang berbeda beda, semakin ia menyadari betapa beragamnya manusia. Untuk Ubiet keragaman ia pahami melalui bunyi-bunyian, bunyi-bunyian menjadi keahliannya membuatnya mampu menghargai satu sama lain melalui apa yang didengarnya dengan telinga. Hingga kini ia mengakui konsisten sejak kecil menjejakkan diri pada nyanyian, bunyi-bunyian, dan ingin dikenal sebagai pesuara dibandingkan dengan penyanyi.

Ubiet berpikir penting sekali ada keragaman dalam kolaborasi karya pada musik, kerjasama dengan Ayu Asmara di tahun 1999 membuahkan CD solo “Archipelagongs”, ditanya mengapa “gong”, “Karena gong itu ada dimana-mana, menyatukan kita, dari Aceh hingga Papua ada alat musik gong.” Sejak 1989, Ubiet menyanyikan beberapa karya komposer kontemporer Tony Prabowo, yang khusus diciptakan untuknya, tidak hanya untuk panggung musik dan rekaman, namun juga untuk menyertai film, teater, tari, peragaan busana, dan pembukaan pameran seni rupa. Di tahun 1996, keduanya, bersama sejumlah musisi dari latar budaya musik Minangkabau dan pemain viola Stephanie Griffin dari New York, membentuk kelompok New Jakarta Ensemble, yang melahirkan album Commonality (Siam Records, New York, 1999).

Saat ditanya apa genrenya, Ubiet mengaku ia tidak mau mengikatkan diri pada genre apapun, “Ekletik saja, sumbernya dari mana-mana. Boleh dibilang ini menjadi ciri saya bahwa sumber saya berasal dari mana-mana. Bisa disebut eksperimental, kontemporer, new music, apapun lah. Karena dasar saya ada klasiknya, ada tradisinya, ada popnya, dan lintas genre juga. Saya main Jazz, Pop, Tradisi, Klasik, dan Klasik yang avant garde.” Untuk Ubiet setiap proyek musiknya hal yang terpenting adalah bagaimana bekerja sama dan saling mengerti dengan pemusik lain agar bisa berkolaborasi, memahami, beradaptasi, menyesuaikan diri. Untuknya penting bagi pemusik dapat mengapresiasi berbagai macam jenis, bahasa musik berbeda-beda seperti jazz, pop, “Perhatian saya adalah, kita tidak saling kenal, bahkan musik pun tidak saling kenal, (menurut saya) tidak bisa jadi pemusik, mengapresiasi satu jenis namun menolak mengapresiasi jenis yang lain.”

Salah satu kejadian penting yang sangat berkesan untuk Ubiet terjadi sekitar 20 tahun lalu saat ia menemui pemain gambus di Kalimantan Timur, saat itu penelitian kecil ini rencananya akan di presentasikan di Taiwan. “Mak Pe’ot namanya, sebagai pemain gambus senior ia memiliki murid, dan memikirkan bagaimana bisa diteruskan (diwariskan) ilmu bermain gambusnya, namun suaminya tidak suka. Singkat cerita, Ia harus memilih, suaminya, atau gambusnya? Ia memilih gambusnya. Yang luar biasa adalah, pada saat saya wawancara, gambuspun ia tidak punya. Dibawa oleh suaminya, katanya. Akhirnya kami bersama-sama dengan Pak Slamet Rudianto itu mencari suntikan dana untuk membelikan Mak Pe’ot gambus untuk ditampilkan di Taiwan. Peristiwa ini penting untuk saya karena menunjukkan bahwa perempuan punya sikap, bahkan terhadap apa yang ia pilih, dan ia memilih musik sebagai jalan hidupnya. Hebat itu, dan ini terjadi di pedalaman yah, bukan perkotaan. Jadi kadang-kadang, orang kota menganggap orang desa itu tidak memiliki sikap, hal itu tidak benar.” Papar Ubiet. Dalam beberapa kasus, di Sumatera misalnya, bagaimana musik dan Islam berhubungan, dalam disertasinya Ubiet mengamati bagaimana orang-orang Aceh dalam berseni mengalami fleksibilitas dan kecairan, walaupun pada sehari-hari memiliki formalitas agama yang kuat. “Namun saat berseni, mereka sangat cair, santai…”

Sumber: Nyak Ina Raseuki. Wawancara oleh Ayu Larasati, Jakarta, 4 November 2017. Editing oleh Siska Doviana

Tags:

Siska Doviana
20 Nov 2017


November 2017 | CC BY 4.0

Cipta Media | CC BY 4.0