Tentang Cipta Media Ekspresi

Perayaan pengetahuan dan kreatifitas ekspresi perempuan dalam aneka ragam bentuk dan dinamikanya dengan rupa hibah dana tunai.

Cipta Media Ekspresi merupakan hibah untuk perempuan pelaku kebudayaan lintas bidang seni. Hibah dapat digunakan untuk membuat, mengkaji, melakukan perjalanan dengan tujuan mencipta atau menampilkan [[karya]].

Jumlah total dana hibah Cipta Media Ekspresi untuk seluruh pemohon hibah yang bisa diberikan adalah 3,5 milyar rupiah bagi proyek yang dapat diselesaikan sebelum 28 Februari 2019.

Latar Belakang

Cipta Media Ekspresi adalah cerita mengenai perempuan pencipta sebagai pelaku budaya yang riwayat karyanya berlubang-lubang karena ia perempuan.

Mungkin ia [[masih ingin berkarya|:kategori akses]] namun terhalang karena harus menjadi tulang punggung keluarga, atau mungkin si pencipta, pelukis, perupa, penari, kurator seni, pengorganisir teater, pemimpin musik tradisi, desainer, atau pemain instrumen tradisional maupun kontemporer ini berubah peran menjadi perawat keluarga, baik anak, suami, ibu, bapak dan saudara.

Bisa jadi ia butuh bantuan untuk terciptanya ruang yang lebih aman, dalam bertemu sesama seniman dan bertukar pikiran dalam karya, sembari anak-anak mereka bermain dan belajar di ruangan yang dapat dipandang dari kejauhan, dimana ibu dan anak bersama mendapat manfaat.

Kesulitan kesulitan ini nyata terjadi, namun tidak diakui, karena terlalu perempuan. Banyak orang bilang ini kodrat. Akibatnya lubang lubang riwayat karya ini menjadi lubang lubang kecil yang banyak, mungkin membesar dan secara menakutkan memutus jalan karyanya, memutus tali kodrat mereka yang sebenar benarnya untuk berseni, untuk mencipta.

Bisa jadi perempuan dalam cerita ini butuh bantuan untuk berkarya, entah karena alat musiknya rusak, usang, perlu diperbaiki, atau punya masalah perempuan sekali: bantuan untuk membayar tangan tambahan dalam merawat keluarga yang memungkinkan ia berkarya.

Mungkin Anda pernah menyaksikan kejadian ini, dimana perempuan dilingkungan Anda diputus jalan karyanya. Hati kecil Anda ingin membantu, ingin mengangkat ceritanya, karena pengalaman perempuan pencipta ini kaya, yang menjadikan jerih payah dan pengalaman hidupnya sebuah pengetahuan. Atau, Anda ingin menjadi sesederhana memberikan bantuan untuk perempuan, menjadi pemampu ia berkarya, namun perempuan dalam cerita tidak tahu cara meminta hibah Cipta Media Ekspresi, terlalu rumit, katanya - saya sudah tua, tidak mengerti. Maka hibah ini bisa jadi untuk perempuan dalam cerita, melalui Anda.

Hibah ini lahir dari seluruh kemungkinan kemungkinan kecil yang terkumpul menjadi hasil: partisipasi perempuan Indonesia di bidang seni dan budaya sangat rendah. Partisipasi perempuan dalam pameran seni rupa? Rendah. Angka perempuan dalam industri musik sebagai pencipta musik? Rendah. Bagaimana dengan hasil masakan perempuan? Tidak diakui inovasi, ‘Oh itu dia sibuk sendiri di dapur, bukan karya seni atau budaya, masakannya -- rumahan saja’.

Bagaimana untuk si tunas? Calon perempuan pencipta, entah calon penari, penyanyi, pengarang, penyair, pemimpin dan penjelajah budaya, yang lingkungannya atau keluarganya berkata bahwa ia tidak boleh berekspresi, berkarya… Biasanya kata-kata ‘tidak patut perempuan..’ disertakan dalam rangkaian titah yang membelenggu.

Layaknya Raisha tidak boleh bernyanyi lagi, bagaimana Indonesia kehilangan?

Ekspresi kreatifitas perempuan adalah kekayaan, rupa bunyi dan karya aneka ragam budaya di Indonesia.

Sekarang bayangkan, untuk mencipta dan berkarya perempuan harus merantau, banyak yang kemudian “dipingit”, karena masih gadis, sudah bersuami, atau punya anak. Jadi, kapan perginya?

Atau bisa jadi dipingit situasi. Siapa yang menjaga…. ? Biaya dari mana untuk… ? Siapa yang akan mengurus…?

Kalau tidak merantau keluar kampung, bagaimana bisa bekerja lintas budaya? Bagaimana bisa bekerja sama dan membuat kolektif seni antar perempuan? Lintas kampung, lintas kota, lintas provinsi, lintas umur, dan lintas seni?

Kini bayangkan, Kartini, penulis “Habis Gelap Terbitlah Terang” -- merantau dan bertemu Dewi Sartika, mereka sama sama pelopor pendidikan untuk perempuan, lokasi tinggalnya pun tidak jauh, usianya pun hanya terpaut lima tahun - apa judul bukunya saat mereka bekerja sama? Bayangkan betapa dahsyat hasilnya…

Hibah ini tidak untuk melanglang ke negeri orang, ibarat pepatah bilang, gajah dipelupuk mata… hibah ini untuk yang dekat namun tak diingat.

Cipta Media | CC BY 4.0